Langsung ke konten utama

Renungan Mingguan Kristen

Selalu ada Harapan

Markus 16:1–8   “ Kebangkitan Yesus yang Membawa Harapan” ✝️ 1. Latar Belakang Teks Injil ditulis untuk menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang menderita namun menang. Pasal 16:1–8 adalah klimaks dari seluruh kisah: dari penderitaan menuju kemenangan. Peristiwa ini terjadi setelah kematian Yesus di kayu salib. Para murid berada dalam ketakutan dan kehilangan harapan. Dalam konteks itulah, kebangkitan menjadi titik balik besar. 🌅 2. Perempuan ke Kubur (ayat 1–3) Tokoh utama dalam bagian ini adalah perempuan-perempuan: Mereka datang membawa rempah-rempah untuk meminyaki tubuh Yesus. Ini menunjukkan: • Kasih dan kesetiaan mereka kepada Yesus • Mereka belum memahami bahwa Yesus akan bangkit Namun ada kegelisahan: “Siapa yang akan menggulingkan batu bagi kita?” 👉 Makna: Manusia sering datang dengan keterbatasan dan kekhawatiran. Harapan sering tertutup oleh “batu besar” masalah hidup. 🪨 3. Batu Sudah Terguling (ayat 4) Saat mereka tiba, batu besar itu sudah tergulin...

Tetap berjaga dan berdoa

 Tetap Berjaga dan Berdoa di Tengah Penderitaan

Refleksi Teologis dari Markus 14:31–41

Injil Markus 14:31–41 menggambarkan salah satu momen paling mendalam dalam kehidupan Yesus sebelum penyaliban. Perikop ini membawa kita ke Taman Getsemani, tempat Yesus bergumul dalam doa sementara para murid justru tertidur. Dalam bagian ini terlihat kontras yang sangat kuat: kesetiaan Yesus kepada kehendak Bapa berhadapan dengan kelemahan manusia yang tidak mampu berjaga. Dari peristiwa ini kita belajar bahwa dalam menghadapi penderitaan, kekuatan rohani hanya ditemukan melalui sikap berjaga dan berdoa.




Keyakinan Manusia yang Rapuh (Markus 14:31)

Pada ayat ini Petrus dengan penuh keyakinan berkata bahwa ia tidak akan pernah menyangkal Yesus, bahkan jika harus mati bersama-Nya. Pernyataan ini menunjukkan semangat yang besar, tetapi juga menggambarkan kelemahan manusia yang sering terlalu percaya pada kekuatannya sendiri. Dalam kenyataannya, beberapa jam kemudian Petrus benar-benar menyangkal Yesus.

Secara teologis, bagian ini menunjukkan bahwa manusia memiliki niat yang baik tetapi sering gagal karena keterbatasannya. Tanpa pertolongan Tuhan, kesetiaan manusia mudah runtuh ketika menghadapi tekanan.

Kontekstualnya

Sering kali kita juga merasa kuat dalam iman ketika keadaan baik-baik saja. Kita berjanji akan tetap setia kepada Tuhan dalam segala situasi. Namun ketika masalah datang—tekanan hidup, penderitaan, atau godaan—iman kita bisa goyah. Kisah Petrus mengingatkan jemaat bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak hanya bergantung pada niat, tetapi pada ketergantungan kepada Tuhan melalui doa.

Getsemani: Tempat Pergumulan Iman (Markus 14:32)

Yesus dan murid-murid-Nya tiba di sebuah tempat yang bernama Getsemani, yang berarti “tempat memeras minyak.” Secara simbolis, nama ini menggambarkan tekanan yang besar. Di tempat inilah Yesus mengalami pergumulan batin yang sangat berat sebelum menghadapi salib.

Secara teologis, Getsemani menunjukkan bahwa sebelum seseorang mengalami kemenangan atau kemuliaan, sering kali ia harus melewati proses pergumulan dan penderitaan terlebih dahulu.

Kontekstualnya

Dalam kehidupan kita, setiap orang pasti memiliki “Getsemani” masing-masing—masa ketika hidup terasa berat, penuh tekanan, dan membuat kita bergumul. Namun peristiwa ini mengajarkan bahwa tempat pergumulan juga bisa menjadi tempat perjumpaan yang mendalam dengan Tuhan. Dalam tekanan hidup, Tuhan mengundang kita untuk datang kepada-Nya dalam doa.

Yesus Mengalami Kesedihan yang Mendalam (Markus 14:33–34)

Yesus mulai merasa sangat takut dan gentar. Ia berkata bahwa hati-Nya sangat sedih, bahkan seperti mau mati rasanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Yesus benar-benar mengalami penderitaan secara manusiawi.

Dalam teologi Kristen, hal ini menegaskan bahwa Yesus bukan hanya Allah, tetapi juga manusia sejati yang merasakan kesedihan, ketakutan, dan tekanan. Karena itu, Yesus memahami sepenuhnya pergumulan manusia.

Kontekstualnya

Ketika kita mengalami kesedihan atau pergumulan hidup, kita tidak perlu merasa sendirian. Yesus sendiri pernah merasakan penderitaan yang sangat berat. Ia mengerti air mata, ketakutan, dan pergumulan kita. Karena itu, kita dapat datang kepada-Nya dengan penuh kepercayaan, sebab Tuhan memahami hati manusia yang terluka.

Panggilan untuk Berjaga (Markus 14:34)

Yesus meminta murid-murid-Nya untuk tinggal dan berjaga. Kata “berjaga” berarti tetap waspada secara rohani, tidak lengah, dan terus siap dalam iman.

Secara teologis, berjaga berarti hidup dengan kesadaran bahwa iman harus dipelihara setiap waktu. Kehidupan rohani tidak boleh dibiarkan tertidur.

Kontekstualnya

Banyak orang tidak jatuh karena masalah besar, tetapi karena kelalaian rohani. Ketika seseorang berhenti berdoa, jarang membaca firman Tuhan, dan tidak menjaga hidup rohaninya, imannya perlahan menjadi lemah. Karena itu, Tuhan memanggil jemaat untuk hidup dengan kesadaran rohani yang terus terjaga.

Doa Penyerahan kepada Kehendak Allah (Markus 14:35–36)

Yesus berdoa kepada Bapa dengan panggilan yang sangat intim: “Abba, ya Bapa.” Ia memohon agar cawan penderitaan itu berlalu, tetapi akhirnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Doa ini menunjukkan inti dari iman Kristen: ketaatan kepada kehendak Tuhan. Yesus tidak memaksakan kehendak-Nya, tetapi memilih untuk tunduk pada rencana Allah.

Kontekstualnya

Sering kali kita berdoa agar Tuhan mengubah keadaan sesuai dengan keinginan kita. Namun doa Yesus mengajarkan bahwa doa yang sejati bukan hanya meminta, tetapi juga belajar mempercayai kehendak Tuhan. Terkadang Tuhan tidak menghilangkan penderitaan, tetapi memberi kekuatan untuk melewatinya.

Kelemahan Manusia yang Mudah Lengah (Markus 14:37–40)

Ketika Yesus kembali kepada murid-murid-Nya, mereka tertidur. Yesus berkata bahwa roh memang penurut, tetapi daging lemah. Ini menggambarkan realitas manusia yang sering memiliki niat baik, tetapi tidak memiliki kekuatan untuk melaksanakannya.

Secara teologis, bagian ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan pertolongan Tuhan agar dapat bertahan dalam iman.

kontekstualnya

Kehidupan rohani tidak dapat dipelihara tanpa doa. Ketika seseorang berhenti berdoa, ia menjadi lemah secara rohani dan mudah jatuh dalam pencobaan. Karena itu, Tuhan memanggil setiap orang percaya untuk menjadikan doa sebagai kekuatan hidup setiap hari.

Kesiapan Menghadapi Penderitaan (Markus 14:41)

Pada akhirnya Yesus berkata bahwa saatnya telah tiba. Ia siap menghadapi penderitaan yang akan datang. Setelah pergumulan doa yang mendalam, Yesus menunjukkan kesiapan untuk menjalani rencana keselamatan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa doa memberikan kekuatan untuk menghadapi realitas kehidupan, termasuk penderitaan.

Kontekstualnya

Doa tidak selalu mengubah keadaan, tetapi doa selalu mengubah hati kita. Ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, ia menerima kekuatan, keberanian, dan ketenangan untuk menghadapi apa pun yang terjadi dalam hidupnya.

Kesimpulan 

Peristiwa di Getsemani mengajarkan sebuah kebenaran penting bagi kehidupan iman: penderitaan adalah bagian dari perjalanan hidup, tetapi Tuhan memberikan kekuatan melalui doa dan kewaspadaan rohani.

Yesus menunjukkan teladan bahwa dalam saat paling berat sekalipun, Ia tetap datang kepada Bapa dalam doa dan menyerahkan diri kepada kehendak-Nya.

Bagi jemaat masa kini, pesan ini sangat relevan. Ketika menghadapi tekanan hidup, masalah keluarga, pergumulan pekerjaan, atau kesulitan lainnya, Tuhan memanggil kita untuk tetap berjaga dan berdoa. Melalui doa, kita tidak hanya meminta pertolongan Tuhan, tetapi juga belajar mempercayai rencana-Nya.

Ketika hidup terasa seperti Getsemani—penuh tekanan dan pergumulan—jangan menjauh dari Tuhan. Justru pada saat itulah kita dipanggil untuk datang kepada-Nya dalam doa. Sebab orang yang tetap berjaga dan berdoa akan menemukan kekuatan Tuhan untuk melewati setiap penderitaan.


Berikut ini adalah tambahan Refreksi Mendalam dari Doa Yesus di taman 

(Sumber dari Markus 14:32–36; Matius 26:36–39; Lukas 22:39–44)

Doa Yesus di taman Getsemani merupakan salah satu bagian yang paling dalam secara teologis dalam Injil. Di dalam doa ini terlihat hubungan yang sangat dekat antara Anak dan Bapa, pergumulan kemanusiaan Yesus, ketaatan kepada kehendak Allah, serta makna keselamatan bagi manusia. Ungkapan Yesus, “Ambillah cawan ini dari hadapan-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”, memperlihatkan bahwa doa bukan hanya permohonan, tetapi perjumpaan pribadi dengan Allah, tempat pergumulan iman, dan jalan menuju ketaatan yang sempurna.

Melalui doa di Getsemani, orang percaya belajar bahwa doa yang sejati selalu berhubungan dengan relasi dengan Tuhan, kejujuran dalam pergumulan, penyerahan kepada kehendak Allah, serta kekuatan untuk menghadapi penderitaan.

Doa sebagai hubungan pribadi dengan Bapa

Dalam doa-Nya Yesus memanggil Allah dengan sebutan Bapa (Abba). Sebutan ini menunjukkan kedekatan yang sangat dalam antara Yesus dan Allah. Dalam budaya Yahudi, kata Abba adalah panggilan yang penuh kasih, seperti seorang anak memanggil ayahnya. Secara teologis, hal ini menunjukkan bahwa doa bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan hubungan hidup antara manusia dan Tuhan.

Yesus tidak berdoa dengan kata-kata formal yang jauh, tetapi dengan bahasa relasi. Ia datang kepada Bapa sebagai Anak yang percaya, yang membuka hati, dan yang menyerahkan diri sepenuhnya. Dalam teologi Perjanjian Baru, hubungan ini menjadi dasar kehidupan orang percaya, karena melalui Kristus manusia diizinkan datang kepada Allah sebagai Bapa (Roma 8:15).

Bagi orang percaya, maknanya adalah bahwa doa tidak boleh hanya dilakukan ketika membutuhkan sesuatu. Doa adalah kehidupan bersama Allah. Orang yang hidup dekat dengan Tuhan akan berdoa bukan karena terpaksa, tetapi karena rindu bersekutu dengan-Nya.

Doa sebagai pergumulan yang nyata dalam kemanusiaan

Di taman Getsemani Yesus berkata:

Jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.”

Ungkapan ini menunjukkan bahwa Yesus sungguh-sungguh manusia. Ia merasakan takut, sedih, dan tekanan yang sangat berat sebelum menghadapi penderitaan di salib. Injil mencatat bahwa jiwa-Nya sangat sedih seperti mau mati rasanya. Hal ini menunjukkan bahwa iman tidak menghapus pergumulan, tetapi membawa pergumulan itu ke hadapan Allah.

Secara teologis, peristiwa ini menegaskan bahwa Yesus memiliki dua natur, yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia. Dalam kemanusiaan-Nya Ia merasakan penderitaan, tetapi dalam ketaatan-Nya Ia tetap setia kepada kehendak Bapa. Pergumulan Yesus bukan tanda kelemahan iman, melainkan bukti bahwa Ia benar-benar mengambil bagian dalam penderitaan manusia.

Makna bagi kehidupan iman adalah bahwa doa bukan tempat untuk menyembunyikan pergumulan, tetapi tempat untuk membawanya dengan jujur kepada Tuhan. Orang percaya boleh merasa takut, sedih, atau lemah, tetapi dalam doa semua itu diserahkan kepada Allah.

●“Ambillah cawan ini dari hadapan-Ku”: makna teologis tentang cawan penderitaan

Ungkapan “Ambillah cawan ini dari hadapan-Ku” merupakan salah satu pernyataan yang paling dalam dalam Injil. Dalam pemahaman Alkitab, kata cawan sering dipakai sebagai simbol bagian yang harus diterima seseorang, terutama yang berkaitan dengan hukuman atau murka Allah atas dosa.

Dalam Perjanjian Lama, cawan melambangkan penghukuman Tuhan atas kejahatan manusia (Mazmur 75:9; Yesaya 51:17; Yeremia 25:15). Karena itu, cawan yang dimaksud Yesus bukan hanya penderitaan fisik, tetapi penderitaan rohani yang sangat berat, yaitu menanggung dosa manusia dan menerima hukuman yang seharusnya ditanggung oleh manusia.

Ketika Yesus meminta supaya cawan itu diambil, Ia sedang menghadapi kenyataan bahwa Ia akan memikul dosa dunia. Ia yang tidak berdosa harus menerima murka Allah demi keselamatan manusia. Inilah beban yang sangat berat, sehingga dalam kemanusiaan-Nya Ia bergumul di hadapan Bapa.

Namun doa Yesus tidak berhenti pada permohonan, tetapi dilanjutkan dengan penyerahan:

Namun bukan apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.”

Di sinilah terlihat bahwa doa Yesus bukan penolakan terhadap salib, melainkan pergumulan menuju ketaatan. Keselamatan manusia terjadi karena ketaatan Kristus. Ia rela minum cawan penderitaan supaya manusia menerima pengampunan dosa dan hidup yang baru.

Cawan yang diminum Yesus menunjukkan betapa mahal harga keselamatan. Ia tidak hanya menderita secara fisik, tetapi juga menanggung hukuman dosa manusia. Inilah puncak kasih Allah, bahwa Anak-Nya rela taat sampai mati demi menyelamatkan dunia.

Bagi orang percaya, ungkapan ini mengajarkan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak selalu mudah. Kadang-kadang orang harus melewati penderitaan, ketakutan, dan pergumulan. Tetapi melalui teladan Yesus, kita belajar bahwa dalam segala keadaan kita dipanggil untuk tetap berdoa dan menyerahkan kehendak kita kepada kehendak Tuhan.

●Doa sebagai penyerahan kepada kehendak Allah

Kalimat Yesus,

Janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”,

merupakan inti dari doa di Getsemani.

Secara teologis, kalimat ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah lebih penting daripada keinginan pribadi. Doa bukan sarana untuk memaksa Tuhan mengikuti kehendak manusia, tetapi jalan untuk membawa kehendak manusia tunduk kepada kehendak Tuhan.

Yesus menunjukkan ketaatan yang sempurna. Ia tidak memilih jalan yang mudah, tetapi jalan yang sesuai dengan rencana keselamatan Allah. Dalam teologi Perjanjian Baru, ketaatan Kristus sampai mati menjadi dasar keselamatan manusia (Filipi 2:8).

Bagi orang percaya, doa yang benar selalu berakhir dengan penyerahan. Orang yang berdoa dengan sungguh-sungguh akan belajar berkata,

“Tuhan, bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mu yang jadi.”

Doa sebagai kekuatan menghadapi penderitaan

Setelah berdoa, Yesus bangkit dengan kesiapan untuk menghadapi salib. Ia tidak lagi lari dari penderitaan, tetapi berjalan dengan teguh menuju penyaliban. Hal ini menunjukkan bahwa doa tidak selalu mengubah keadaan, tetapi mengubah hati supaya kuat menjalani kehendak Tuhan.

Dalam kehidupan iman, sering kali masalah tidak langsung hilang setelah berdoa. Namun melalui doa, Tuhan memberi kekuatan, ketenangan, dan keberanian untuk tetap setia. Orang yang berdoa akan mampu bertahan dalam penderitaan karena ia tahu bahwa hidupnya berada dalam tangan Allah.

Doa di Getsemani mengajarkan bahwa kekuatan rohani lahir dari persekutuan dengan Tuhan. Tanpa doa, manusia mudah jatuh dalam kelemahan. Dengan doa, orang percaya dikuatkan untuk tetap setia.

Doa Yesus menunjukkan kasih dan karya keselamatan

Doa Yesus tidak hanya berhubungan dengan pergumulan pribadi, tetapi dengan karya keselamatan bagi dunia. Ia berdoa sebelum disalibkan karena Ia taat kepada Bapa demi menyelamatkan manusia.

Secara teologis, doa Yesus di Getsemani berhubungan langsung dengan salib. Ketaatan Yesus dalam doa membawa keselamatan bagi dunia. Ia menerima cawan penderitaan supaya manusia menerima cawan keselamatan.

Hal ini menunjukkan bahwa doa yang sejati selalu berkaitan dengan kehendak Allah, bukan hanya dengan kepentingan diri sendiri. Doa yang benar membawa manusia masuk ke dalam rencana Allah, bahkan ketika rencana itu penuh penderitaan.

Kasih Yesus terlihat dalam ketaatan-Nya. Ia tidak memilih jalan yang mudah, tetapi jalan salib, supaya manusia memperoleh hidup yang baru.

Kesimpulan  (Kerugma singkat untuk khotbah)

Doa Yesus di Getsemani mengajarkan bahwa kekuatan terbesar orang percaya bukan terletak pada kekuatan diri, tetapi pada penyerahan total kepada kehendak Bapa.

Doa adalah hubungan dengan Tuhan, tempat membawa pergumulan, jalan menuju ketaatan, dan sumber kekuatan dalam penderitaan.

Cawan yang diminum Yesus menunjukkan bahwa keselamatan terjadi karena ketaatan Kristus, dan melalui ketaatan itu manusia menerima hidup yang baru.

Karena itu, orang percaya dipanggil untuk tetap berjaga dan berdoa, setia dalam pergumulan, dan percaya bahwa kehendak Tuhan selalu lebih baik daripada kehendak manusia.


🎮 PANDUAN LENGKAP GAME KSP
“Tidur atau Berjaga” Berdasarkan Markus 14:37–38

Game ini untuk KSP / Pemuda / Remaja / Sekolah Minggu / Ibadah Minggu Sengsara,karena berkaitan dengan peristiwa Yesus di Getsemani ketika murid-murid tertidur saat Yesus berdoa.
Ayat dasar:
 “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”(Markus 14:37–38)

1. TUJUAN GAME

Mengingat kisah Getsemani
Mengajarkan arti berjaga dalam iman
Melatih konsentrasi
Menghidupkan suasana ibadah KSP
Memberi pesan rohani melalui permainan

2. JUMLAH PEMAIN
Minimal: 5 orang atau semua peserta KSP (boleh seluruh peserta KSP)
Bisa dimainkan: Anak,Remaja,Pemuda, atau Dewasa

3. PERAN DALAM GAME
1. Pemimpin / Pembina / Liturgos
2. Peserta
3. (Opsional) Pembaca ayat

4. PERSIAPAN SEBELUM MAIN
✔ Ruangan cukup luas
✔ Peserta berdiri membentuk lingkaran / barisan
✔ Pemimpin di depan
✔ Jelaskan aturan terlebih dahulu
✔ Baca ayat Markus 14:37–38

Contoh pembacaan:
Yesus datang dan mendapati murid-murid tertidur, lalu Ia berkata:
“Berjaga-jagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.”

5. PERINTAH & GERAKAN DALAM GAME
Perintah                        Gerakan
BERJAGA                     Berdiri tegak
TIDUR.                           Duduk
DOA                               Lipat tangan
BANGUN.                      Berdiri cepat
AMIN (opsional)         Angkat tangan

Peserta harus mengikuti dengan cepat.


6. CARA BERMAIN (LANGKAH DEMI LANGKAH PANDUAN BAGI MAJELIS)

Langkah 1 — Penjelasan Pembina Katakan kepada peserta:
> Pada waktu Yesus berdoa di taman Getsemani, murid-murid tertidur.
Yesus berkata: berjaga dan berdoa.
Sekarang kita akan bermain untuk belajar berjaga dalam iman.

Langkah 2 — Latihan gerakan
Pemimpin memberi contoh:
BERJAGA → berdiri
TIDUR → duduk
DOA → lipat tangan

Ulang 2–3 kali sampai semua paham.

Langkah 3 — Mulai permainan
Pemimpin memberi perintah secara lisan.
Contoh:BERJAGA,DOA,TIDUR,BERJAGA,DOA,TIDUR,DOA, &BERJAGA
Peserta harus cepat mengikuti.

Langkah 4 — Aturan keluar
Peserta keluar jika:Salah Gerakan,Terlambat,Tidak serius, Tertawa / tidak focus,Peserta yang keluar duduk di samping.

Langkah 5 — Babak cepat
Pemimpin mempercepat perintah.
Contoh cepat:
BERJAGA – DOA – DOA – TIDUR – BERJAGA – DOA – TIDUR – BERJAGA – DOA
Semakin cepat semakin seru.

Langkah 6 — Babak jebakan (opsional)
Pemimpin memberi perintah yang membingungkan.
Contoh:BERJAGA,TIDUR,BERJAGA,TIDUR,TIDUR,DOA,BERJAGA,DOA &TIDUR

Tujuan: Melatih berjaga dan fokus.

Langkah 7 — Pemenang
Yang tersisa terakhir = pemenang
Boleh diberi:Tepuk tangan,Hadiah kecil, atau Ucapan selamat



7. PENJELASAN MAKNA (WAJIB SETELAH GAME)

Anak anak,pemuda, dan jemaat yang dikasihi Tuhan, dari permainan yang kita lakukan tadi, kita belajar satu hal penting. Tidak mudah untuk sesalu berjaga, tidak muda untuk selalu taat, dan tidak muda untuk selalu siap.kadang kita salah Gerakan, kadang kita terlambat, kadang kita tidak focus .
Itulah yang juga terjadi dalam kisah Yesus ditaman Getsemani. Saat Yesus sedang mengahadapi penderitaan yang sangat berat, ia meminta murid-murid justru tertidur. Mereka sebenarnya mau setia,tetapi mereka lemah.
Firman Tuhan berkata: “Roh memang penurut,tetapi daging lemah” ( Markus 14:38 ) artinya, manusia sering ingin melakukan yang benar,tetapi tidak selalu kuat melakukannya. Karena itu Yesus mengajarkan satu hal penting, yaitu : “Berjagalah dan berdoalah supaya kamu jangan jatuh dalam pencobaan “ berjaga berarti kita hidup dengan sadar, tidak lalai,tidak lengah dalam iman. Berdoa berarti kita selalu dekat dengan Tuhan, berbicara dengan Tuhan saat badai, meminta kekuatan dari-Nya. Yesus sendiri memberikan teladan. Saat Ia takut, Ia berdoa.saat Ia sedih, Ia berdoa. Saat Ia akan menderita, Ia tetap berdoa dan taat kepada kehendak Bapa. 
Bagi kita firman Tuhan mengingatkan saat penderitaan datang, jangan tidur dalam iman.saat masalah datang, jangan berhenti berdoa. Saat hidup terasa berat, tetaplah berjaga di dalam Tuhan. Karena orang yang berjaga dan berdoa, akantetap kuat, akan tetap setia,dan akan tetap berdiri, walaupun harus melewati penderitaan. Kiranya melalui permainan dan firman Tuhan hari ini, kita belajar Tetap berjaga dan berdoa ditengah penderitaan, supaya kita tetap setia sampai akhir. Amin

https://vt.tiktok.com/ZSushjm1M/



Mimbar Gereja Kristen
Khotbah • Teologi • Pengajaran Firman Tuhan
Untuk membangun iman dan kehidupan orang percaya


Komentar

Postingan Populer