Langsung ke konten utama

Renungan Mingguan Kristen

KEJADIAN 13:1-18

  ALLAH PEDULI KITA SEPERTI ALLAH PEDULI ABRAM DAN LOT Kejadian 13:1-18 Latar Singkat Pasal Kejadian 13 mencatat pemulihan rohani Abram , perpisahan Abram dan Lot, s erta peneguhan kembali janji Allah kepada Abram. Pasal ini menegaskan bahwa iman sejati diwujudkan melalui kerendahan hati, ketaatan, dan kepercayaan pada janji Allah, bukan pada keuntungan sesaat. 1 . Kejadian 13:1–4 Abram kembali ke tempat mezbah Penjelasan Teks Abram kembali dari Mesir ke Negeb bersama Sarai dan segala miliknya. Ia kembali ke tempat mezbah yang dahulu didirikannya di antara Betel dan Ai. T indakan ini menunjukkan kembali kepada pusat persekutuan dengan Allah setelah kegagalan rohani di Mesir (Kej. 12:10–20). Mezbah melambangkan penyembahan, pertobatan, dan pemulihan relasi dengan Allah. Abram tidak memulai sesuatu yang baru, tetapi kembali kepada panggilan mula-mula. Ketika kita gagal atau menyimpang, jalan pemulihan bukan lari lebih jauh, melainkan kembali ke “mezbah”—doa, firman, dan p...

Runungan Dukacita

 CERITA ILUSTRASI –

 “BUNGA YANG MELEPAS KELOPAKNYA” 

Ditengah kota, ada taman kecil dekat rumah seorang ibu bernama Hana yang sering duduk sendirian. Hana atau Ia baru saja kehilangan suami tercinta. Setiap sore, ia datang untuk sekadar menenangkan hatinya.

Suatu hari, ia memperhatikan sebuah bunga mawar di taman itu. Mawar itu sedang merontokkan kelopak-kelopaknya.

 Kelopak yang dulu begitu indah kini satu per satu jatuh ke tanah. Bagi Hana, itu tampak seperti gambaran hidupnya: indah… lalu runtuh.

Saat ia sedang termenung, seorang tukang kebun tua datang menghampiri. Ia tersenyum ramah dan berkata,

“Ibu memperhatikan bunga itu, ya?”

Hana mengangguk pelan.

“Saya merasa seperti bunga itu… kehilangan semuanya.”

Tukang kebun itu duduk di sampingnya dan berkata.

“Tahukah ibu,” katanya lembut, “bunga itu tidak sedang mati. Itu sedang bersiap menumbuhkan keindahan yang baru. Kelopak lama harus jatuh, supaya kelopak baru yang lebih segar dan lebih kuat bisa tumbuh.”

Ia tukan kebun tua itu; menunjuk bunga yang sama pada foto di ponselnya, diambil beberapa bulan lalu — bunga yang sama tampak jauh lebih indah setelah masa rontoknya.

“Kadang kita melihat kehilangan sebagai akhir,” lanjutnya,

“padahal itu bagian dari proses. Apa yang terlepas—rasa aman kita, orang yang kita cintai—tidak hilang sia-sia. Tuhan sedang menyiapkan sesuatu yang baru, yang mungkin belum kita lihat sekarang.”

Hana terdiam. Untuk pertama kalinya sejak kehilangan itu, hatinya merasakan sedikit hangat.

Ia memandang kelopak yang jatuh dan berkata perlahan,

“Jadi… meskipun aku kehilangan, Tuhan sedang menumbuhkan sesuatu dalam hidupku?”

Tukang kebun itu tersenyum dan menjawab,

“Benar, Ibu. Bahkan ketika hidup merontokkan kelopak lama kita, Tuhan sedang merawat akar iman kita.”

LATAR BELAKANG AYAT (Wahyu 21:4)

Kitab Wahyu ditulis oleh Yohanes ketika ia berada dalam pengasingan di pulau Patmos, sekitar akhir abad pertama. Pada masa itu: Jemaat Tuhan sedang mengalami penganiayaan dan penderitaan.

Iman banyak orang diguncang oleh kematian, penindasan, dan ketidakpastian hidup.

Jemaat membutuhkan pengharapan yang melampaui keadaan dunia.

Wahyu 21:4 muncul dalam visi langit dan bumi yang baru — gambaran pemulihan total yang Allah ciptakan di akhir zaman.

 Ayat ini adalah salah satu ayat paling penuh pengharapan di seluruh Alkitab.

“Ia akan menghapus segala air mata.”

Kata “menghapus” dalam bahasa Yunani (“ἐξαλείψει”, exaleipsei) berarti:

membersihkan sampai tuntas, menghapus tanpa bekas.

Ini adalah tindakan pribadi dan lembut dari Allah sendiri.

“Maut tidak akan ada lagi.”

Dalam dunia saat Yohanes menulis, maut selalu dekat. Tetapi di dunia yang baru, maut kehilangan kuasanya.

“Tidak akan ada lagi perkabungan, ratap tangis, atau dukacita.”

Ini menggambarkan berakhirnya seluruh bentuk penderitaan manusia — bukan sementara, tetapi untuk selamanya.

Ayat ini bukan sekadar janji untuk nanti, tetapi penghiburan bagi jemaat yang sedang menderita saat itu.

RENUNGAN – “Kelopak Lama Harus Jatuh untuk Keindahan Baru

Setiap orang yang sedang berduka merasakan kehilangan seperti bunga yang merontokkan kelopaknya. Kelopak itu bisa berupa:orang terkasih,rasa aman,rencana masa depan,kebiasaan bersama,tawa dan cerita yang ingin dipertahankan,Ketika semua itu jatuh, kita merasa hidup kehilangan warnanya.

Namun Firman Tuhan berkata:Tidak ada duka yang sia-sia di tangan Allah.

Sama seperti bunga yang merontokkan kelopak lamanya, kita sering melalui fase hidup yang terasa kosong. Tidak indah. Tidak utuh. Tidak kuat.

Tetapi Tuhan bekerja justru dalam momen seperti itu.

➤ Ia tidak membiarkan dukamu menjadi sia-sia.

➤ Ia menumbuhkan penghiburan yang baru.

➤ Ia menguatkan akar iman yang mungkin dulu rapuh.

➤ Ia memulihkan harapan yang sempat hilang.

Dan janji-Nya dalam Wahyu 21:4 mengingatkan kita:

di dunia ini kita mungkin menangis, tetapi ada hari ketika Allah sendiri yang menghapus air mata itu.

di dunia ini kita kehilangan, tetapi ada hari ketika maut tidak lagi menyentuh kita.

di dunia ini kita meratap, tetapi ada hari ketika tidak ada duka lagi.

Kita hidup dalam dunia sementara, tetapi menuju kehidupan yang kekal dan sempurna.

MAKNA ROHANI UNTUK JEMAAT

1. Kehilangan bukan akhir, tetapi bagian dari proses pemulihan Tuhan.

Seperti bunga yang melepas kelopak lama, hidup kita sedang diarahkan pada keindahan baru.

2. Allah hadir dalam duka, bukan sekadar menguatkan dari jauh.

Ia sendiri yang “menghapus air mata”, tindakan penuh kasih personal.

3. Tidak ada duka yang sia-sia.

Tuhan dapat memakai penderitaan untuk menumbuhkan kedewasaan rohani, pengharapan, dan kekuatan baru.

4. Kematian tidak berkuasa selamanya.

Kita menantikan dunia tanpa air mata, tanpa ratap, tanpa sakit, tanpa maut.

5. Duka boleh ada sementara, tetapi sukacita Tuhan adalah kekal.

Keluarga yang berduka tidak berjalan sendirian — Tuhan berjalan bersama, menuntun, memulihkan.


Komentar

Postingan Populer