Renungan Mingguan Kristen

KEJADIAN 13:1-18

 ALLAH PEDULI KITA SEPERTI ALLAH PEDULI ABRAM DAN LOT

Kejadian 13:1-18

Latar Singkat Pasal
Kejadian 13 mencatat pemulihan rohani Abram, perpisahan Abram dan Lot, serta peneguhan kembali janji Allah kepada Abram. Pasal ini menegaskan bahwa iman sejati diwujudkan melalui kerendahan hati, ketaatan, dan kepercayaan pada janji Allah, bukan pada keuntungan sesaat.

1. Kejadian 13:1–4
Abram kembali ke tempat mezbah

Penjelasan Teks
Abram kembali dari Mesir ke Negeb bersama Sarai dan segala miliknya. Ia kembali ke tempat mezbah yang dahulu didirikannya di antara Betel dan Ai. Tindakan ini menunjukkan kembali kepada pusat persekutuan dengan Allah setelah kegagalan rohani di Mesir (Kej. 12:10–20).

Mezbah melambangkan penyembahan, pertobatan, dan pemulihan relasi dengan Allah. Abram tidak memulai sesuatu yang baru, tetapi kembali kepada panggilan mula-mula.


Ketika kita gagal atau menyimpang, jalan pemulihan bukan lari lebih jauh, melainkan kembali ke “mezbah”—doa, firman, dan penyembahan. Allah setia memulihkan mereka yang kembali kepada-Nya.


Ungkapan Kembali ke mezbah berarti dengan jujur mengakui kegagalan di hadapan Tuhan dan membiarkan Dia membentuk ulang hati kita. Abram tidak menyangkal kesalahannya di Mesir, tetapi juga tidak terjebak dalam rasa bersalah yang berkepanjangan. Ia memilih kembali kepada Allah yang sama yang dahulu memanggilnya. Dalam hidup orang percaya, pemulihan sering kali bukan tentang perubahan keadaan, melainkan pemulihan relasi. Mezbah mengajarkan bahwa Tuhan lebih rindu hati yang kembali daripada keberhasilan lahiriah yang kosong.

2. Kejadian 13:5–7
Konflik akibat kelimpahan

Penjelasan Teks
Kekayaan Abram dan Lot menjadi sumber konflik karena tanah tidak cukup menampung ternak mereka. Perselisihan terjadi di antara para gembala.

Berkat material tanpa kedewasaan rohani dapat memicu perpecahan. Konflik ini bukan karena kekurangan, melainkan karena kelimpahan.


Tidak semua konflik muncul karena kesulitan; sering kali justru karena berkat yang tidak dikelola dengan hikmat. Iman diuji bukan hanya saat susah, tetapi juga saat berhasil.

Kelimpahan menyingkapkan isi hati manusia. Saat berkat bertambah, ego, ambisi, dan rasa memiliki dapat dengan mudah muncul. Konflik para gembala mencerminkan bahwa berkat Allah menuntut tanggung jawab rohani. Tuhan tidak hanya menguji iman kita dalam kekurangan, tetapi juga dalam keberhasilan—apakah kita tetap rendah hati, bersyukur, dan menjaga relasi, atau justru membiarkan berkat menjadi sumber perpecahan.

Ketika ditahun ini' saudara semakin banyak mendapat berkat kelimpahan, maka haruslah saudara semakin dekat kepada Tuhan Mengapa ??? Dengarkan baik; agar berkat kelimpahan itu tidak menjadi masalah nantinnya dalam hidupmu! Baik hidup sosia, kerja, dan kekeluargaanmu

3. Kejadian 13:8–9
Sikap damai Abram

Penjelasan Teks
Abram mengambil inisiatif untuk berdamai. Ia menegaskan bahwa mereka adalah saudara dan memberi Lot hak memilih terlebih dahulu.

Abram menunjukkan kerendahan hati dan iman. Ia percaya bahwa berkatnya tidak bergantung pada tanah pilihan, tetapi pada janji Allah.

Orang beriman sejati tidak takut “kehilangan” demi menjaga damai. Damai lebih bernilai daripada menang. Kepercayaan kepada Allah membebaskan kita dari sikap serakah.

Kerelaan Abram untuk mengalah bukan tanda kelemahan, melainkan bukti iman yang dewasa. Ia tidak bergantung pada situasi, tetapi pada Allah yang berjanji. Orang yang yakin akan pemeliharaan Tuhan tidak perlu merebut haknya dengan paksa. Sikap ini menantang kita untuk bertanya: apakah kita lebih ingin membela kepentingan diri, atau memelihara kesatuan dan damai yang memuliakan Tuhan?

4. Kejadian 13:10–13
Pilihan Lot dan akibatnya

Penjelasan Teks
Lot memilih Lembah Yordan yang subur, seperti taman TUHAN, dan menetap dekat Sodom—kota yang jahat di hadapan TUHAN.

Lot memilih berdasarkan penglihatan mata, bukan pertimbangan rohani. Kedekatan dengan dosa menjadi awal kejatuhan berikutnya (bdk. Kej. 19).

Pilihan yang tampak menguntungkan belum tentu membawa berkat. Keputusan tanpa Tuhan dapat membawa kita dekat pada kehancuran, meski terlihat indah di awal.

Mengajarkan kita tentang tentang keputusan kita ditahun 2016 ini, seperti Abram dan Lot yang harus mebuat keputusan besar. kitapun ada banyak pilihan ditahun ini: Sekolah, pekerjaan,pelayanan, rerasi, dan lainya. Dalam pilihan itu ingat bahwa Tuhan peduli atas pilihan itu.

Lot tidak langsung tinggal di Sodom, tetapi “mendekat” ke sana. Ini menunjukkan bahwa kompromi rohani sering dimulai secara perlahan dan tampak tidak berbahaya. Keindahan lahiriah menutupi bahaya rohani. Kisah Lot mengingatkan bahwa keputusan yang tidak melibatkan Tuhan dapat menyeret kita semakin dekat kepada dosa, hingga akhirnya mengikat hidup kita. Iman menuntut kita melihat lebih jauh dari sekadar keuntungan jangka pendek.

5. Kejadian 13:14–17
Janji Allah diteguhkan kembali

Penjelasan Teks
Setelah Lot berpisah, TUHAN meneguhkan kembali janji tanah dan keturunan kepada Abram. Abram diminta memandang dan menjelajahi tanah itu.

Janji Allah diteguhkan setelah Abram taat dan melepaskan haknya. Ketaatan mendahului pewahyuan yang lebih besar.

Ketika kita rela melepaskan demi Tuhan, Allah sering kali memberikan visi yang lebih luas dan janji yang lebih besar dari pada apa yang tela kita lepas.  Berkat Allah tidak pernah berkurang karena ketaatan.

Allah berbicara kepada Abram setelah ia melepaskan Lot. Ini menunjukkan bahwa ketaatan membuka ruang bagi penyataan Allah yang lebih jelas. Apa yang dilepaskan Abram tidak sebanding dengan apa yang Allah janjikan. Dalam kehidupan iman, sering kali kita diminta melepaskan sesuatu yang kelihatan untuk menerima janji yang belum kelihatan. Namun janji Allah selalu melampaui pengorbanan manusia.


6. Kejadian 13:18
Mezbah sebagai respons iman

Penjelasan Teks
Abram menetap di dekat pohon tarbantin di Mamre, Hebron, dan mendirikan mezbah bagi TUHAN.

Setiap fase baru dalam hidup Abram selalu ditandai dengan penyembahan. Mezbah menjadi tanda kehadiran Allah dalam hidupnya.

Iman sejati selalu diakhiri dan dimulai dengan penyembahan. Di mana Allah menempatkan kita, di situ kita membangun mezbah— hidup yang memuliakan Tuhan.

Abram tidak merayakan keberhasilannya dengan membangun tenda yang lebih besar, tetapi dengan mendirikan mezbah. Penyembahan menjadi pusat hidupnya, bukan berkat itu sendiri. Mezbah menegaskan bahwa hidup Abram sepenuhnya diarahkan kepada Allah.

Awa dari firman ini mengingatkan bagaimana Abram kembali ke tempat dimana ia pernah membuat mezbah, dan di akhir ayat 18 ini kembali bahwa Abram mendirikan mezbah,

Ini mengingatkan kita bahwa respons terbaik atas janji dan pemeliharaan Tuhan bukan kesombongan, melainkan penyembahan dan penyerahan diri yang terus-menerus.

Komentar

Postingan Populer