Cari Blog Ini
Blog ini berisi khotba/ renungan, petunjuk, dogma, dalam pelayanan sebagai mimbar injili. bagaimana inovasi digital meningkatkan pengalaman pelanggan, tantangan yang dihadapi, serta strategi untuk memberikan layanan terbaik di dunia yang semakin terkoneksi. Bersiaplah untuk memahami bagaimana dunia pelayanan bergerak menuju masa depan yang lebih efisien dan inovatif dalam gereja dan semua secara luas
Renungan Mingguan Kristen
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Pembayaran Nazar
Berikut penjelasan kitab Imamat 27:1–34 dengan tema “Pembayaran Nazar”.
📖 TEMA: Pembayaran Nazar
🔹 Latar Belakang
Pasal 27 adalah bagian penutup dari kitab Imamat. Setelah Tuhan menetapkan berbagai hukum tentang kekudusan, ibadah, dan peraturan persembahan, pasal ini menyoroti hal khusus tentang nazar — yaitu janji atau persembahan sukarela yang seseorang ucapkan kepada Tuhan sebagai ungkapan syukur, permohonan, atau komitmen pribadi.
Tuhan mengajarkan bahwa nazar bukanlah kewajiban, tetapi bila seseorang sudah berjanji kepada Tuhan, ia harus menepatinya dengan sungguh-sungguh. Hal ini mencerminkan integritas dan kesetiaan umat kepada Allah yang kudus.
📜 Penjelasan Teks Imamat 27:1–34
🔸 Ayat 1–8 – Penilaian terhadap orang yang dinazarkan
Seseorang bisa menazarkan dirinya kepada Tuhan (misalnya menjadi pelayan Tuhan untuk waktu tertentu).
Namun, agar tidak disalahgunakan, Tuhan memberi aturan nilai tebusan sesuai umur dan jenis kelamin (ayat 3–7).
Jika seseorang terlalu miskin untuk membayar nilai tersebut, imam akan menilai sesuai kemampuannya (ayat 8).
➡️ Maknanya: Tuhan tidak memaksa; Ia adil dan memperhitungkan kemampuan setiap orang.
🔸 Ayat 9–13 – Hewan yang dinazarkan
Hewan yang dipersembahkan tidak boleh diganti. Jika diganti, keduanya menjadi milik Tuhan (ayat 10).
Hewan najis (tidak layak untuk korban) bisa ditebus dengan menambahkan 1/5 dari nilainya (ayat 13).
➡️ Maknanya: Nazar kepada Tuhan tidak boleh dimanipulasi. Apa yang sudah diserahkan tidak boleh ditarik kembali seenaknya.
🔸 Ayat 14–15 – Rumah yang dinazarkan
Rumah bisa dinazarkan kepada Tuhan dan dinilai oleh imam. Jika ingin ditebus, pemilik menambah 1/5 dari nilainya.
➡️ Maknanya: Nazar bukan hanya ucapan, tapi melibatkan konsekuensi nyata dan komitmen terhadap milik pribadi.
🔸 Ayat 16–25 – Tanah yang dinazarkan
Tanah yang dinazarkan dinilai menurut hasil panennya, dengan aturan sesuai tahun Yobel (tahun pembebasan setiap 50 tahun).
Jika ditebus, harus menambah 1/5 dari nilai tebusan.
➡️ Maknanya: Tuhan menghormati ketulusan, tapi juga menuntut kejujuran dan tanggung jawab dalam janji.
🔸 Ayat 26–33 – Barang yang tidak boleh dinazarkan
Anak sulung dari ternak sudah menjadi milik Tuhan sejak semula, jadi tidak boleh dinazarkan lagi.
Segala yang dikhususkan untuk Tuhan secara total tidak dapat ditebus kembali (ayat 28–29).
Persepuluhan dari hasil panen dan ternak juga milik Tuhan (ayat 30–33).
➡️ Maknanya: Ada hal-hal yang sudah menjadi hak Tuhan, dan umat tidak boleh memperlakukannya seolah milik pribadi.
🔸 Ayat 34 – Penutup
> “Itulah perintah-perintah yang diperintahkan TUHAN kepada Musa di gunung Sinai untuk orang Israel.”
➡️ Maknanya: Semua peraturan ini berasal dari otoritas Allah sendiri, bukan buatan manusia.
💡 Renungan bagi kita
1. Tepati janji kepada Tuhan.
Jika kita sudah berjanji — baik dalam doa, persembahan, pelayanan, atau komitmen iman — kita harus menepatinya dengan setia (bdk. Pengkhotbah 5:4–5).
2. Jangan bermain-main dengan hal rohani.
Nazar bukan mainan atau sekadar emosi sesaat. Tuhan menghargai ketulusan hati, bukan sekadar kata-kata.
3. Tuhan menghitung kesungguhan, bukan kemampuan materi.
Seperti ayat 8, Tuhan tidak menuntut lebih dari yang mampu kita beri; yang Ia kehendaki adalah hati yang jujur.
4. Miliki integritas dalam berjanji.
Dunia modern sering menyepelekan janji. Namun, bagi umat Allah, setiap janji — kepada Tuhan atau sesama — adalah cerminan iman.
5. Ingat bahwa sebagian dari hidup dan berkat kita memang milik Tuhan.
Seperti persepuluhan dalam ayat 30–33, kita diingatkan bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan; memberi kembali kepada-Nya adalah bentuk syukur, bukan beban.
6. Hidup kudus adalah tanggung jawab bersama.
Imamat 27 menutup seluruh kitab dengan pesan bahwa kekudusan menyentuh seluruh aspek kehidupan — ibadah, ekonomi, keluarga, bahkan janji pribadi.
🙏 Renungan akhir Singkat
> “Tuhan tidak menuntut kita berjanji besar, tetapi Ia ingin kita setia pada janji kecil yang kita ucapkan.”
Bila kita berkata, “Ya, Tuhan, aku mau melayani-Mu,” maka marilah kita lakukan dengan setia. Karena di mata Tuhan, ketaatan lebih berharga dari sekadar kata-kata.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Postingan Populer
PEMBERDAYAAN YANG DI KEHENDAKI TUHAN
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar