Langsung ke konten utama

Renungan Mingguan Kristen

Renungan terbaru minggu ini

  Keluaran 6:1–12 dengan tema: KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA I. LATAR BELAKANG KITAB Kitab Keluaran 1. Kedudukan Kanonik dan Teologis Jika Kejadian menekankan janji Allah kepada para patriarkh, maka Keluaran memperlihatkan penggenapan historis janji tersebut melalui pembebasan Israel dari Mesir. Secara teologis, Pembacaan ini berpusat pada: Pewahyuan nama YHWH Pembebasan Perjanjian Sinai Pembentukan identitas umat Allah 2. Latar Historis Peristiwa Keluaran berada dalam konteks perbudakan Israel di Mesir. Pasal 1–5 menggambarkan: Penindasan sistematis Kelahiran dan panggilan Musa Konfrontasi pertama dengan Firaun Kegagalan awal Musa (5:22–23) Pasal 6:1–12 muncul sebagai respons ilahi atas krisis iman Musa dan keputusasaan bangsa Israel. 3 . Latar Teologis Pasal 6 Pasal 6 merupakan titik balik teologis. Allah menegaskan: Identitas-Nya Kesetiaan perjanjian Rencana penyelamatan Tema utama bagian ini adalah pewahyuan Allah sebagai YHWH yang setia dan berti...

Ketika Harapan Seolah Padam

 Renungan Minggu Sengsara II DI sampaikan dalam ibadah KSP 

KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA

📖 Keluaran 6:1–13


1. Ketika Harapan Seolah Padam

Saudara-saudari yang terkasih,

Minggu Sengsara adalah waktu kita berjalan perlahan menuju salib. Kita diajak bukan hanya melihat penderitaan Kristus, tetapi juga menghayatinya dalam terang kehidupan kita sendiri. Dalam suasana inilah kita membaca Keluaran 6:1–13.

Bangsa Israel sedang berada di titik terendah hidup mereka. Mereka diperbudak di Mesir. Tubuh mereka lelah, hati mereka patah. Ketika Musa datang membawa berita pembebasan, keadaan justru memburuk. Beban kerja ditambah. Tekanan diperberat. Harapan seakan dihancurkan.

Bukankah ini sangat dekat dengan pengalaman jemaat hari ini?

Ada keluarga yang sudah berdoa lama, tetapi masalah ekonomi justru makin berat.
Ada orang tua yang menangis bagi anaknya, tetapi perubahan belum terlihat.
Ada pelayan Tuhan yang setia, tetapi pelayanan terasa tidak dihargai.

Seperti Israel dalam pasal 5, kita bisa berkata:
“Tuhan, mengapa keadaan justru semakin sulit setelah aku taat?”

Di sinilah Keluaran 6 menjadi jawaban Allah atas krisis iman.

2. “Sekarang Engkau Akan Melihat…” – Allah Tidak Pasif

Ayat 1 dimulai dengan satu kata yang penuh kuasa: “Sekarang.”

Itu bukan sekadar penanda waktu. Itu adalah momentum ilahi. Saat manusia berkata, “Sudah tidak ada jalan,” Tuhan berkata, “Sekarang engkau akan melihat apa yang akan Kulakukan.”

Kepedulian Tuhan bukanlah simpati yang jauh.
Ia bukan Allah yang hanya melihat penderitaan dari surga tanpa bertindak.
Ia adalah Allah yang turun tangan.

Dalam Minggu Sengsara, kita melihat hal yang sama dalam diri Yesus Kristus.
Sebelum kebangkitan ada salib.
Sebelum kemuliaan ada penderitaan.

Israel menderita sebelum pembebasan.
Yesus menderita sebelum keselamatan digenapi.

Dan sering kali dalam hidup kita, pertolongan Tuhan datang bukan sebelum penderitaan, tetapi melalui penderitaan.


3. “Akulah TUHAN” – Kepedulian Berakar pada Identitas Allah

Dalam ayat 2–3, Tuhan menyatakan:
“Akulah TUHAN (YHWH).”

Ini bukan sekadar nama. Ini identitas.
YHWH adalah Allah yang setia pada janji.
Allah yang hadir dalam sejarah.
Allah yang tidak berubah meskipun situasi berubah.

Jemaat mungkin berubah-ubah emosinya.
Iman bisa naik turun.
Tetapi identitas Tuhan tidak pernah goyah.

Dalam Minggu Sengsara, kita diingatkan bahwa di balik wajah Yesus yang terluka, tetap ada Allah yang setia. Salib bukan kegagalan rencana Allah — salib adalah penggenapan rencana itu.

Ketika hidup kita terasa tidak stabil, kita berpijak bukan pada keadaan, tetapi pada siapa Tuhan itu.

4. “Aku Telah Mendengar” – Allah yang Mengingat Perjanjian

Ayat 4–5 berkata:
“Aku telah mengadakan perjanjian-Ku… Aku telah mendengar keluh kesah…”

Kata “mengingat” bukan berarti Tuhan lupa lalu teringat kembali. Itu berarti Tuhan sedang bertindak setia terhadap komitmen-Nya.

Betapa menghibur ini bagi jemaat.

Tangisan yang tidak terdengar manusia, terdengar oleh Tuhan.
Doa yang tidak dijawab segera, tidak pernah diabaikan.
Air mata yang jatuh di malam hari, dicatat oleh Allah.

Dalam penderitaan Yesus, Allah tidak lupa pada perjanjian keselamatan-Nya.
Demikian juga dalam penderitaan kita, Tuhan tidak pernah lalai.

5. Tujuh “Aku Akan” – Kepedulian yang Menyeluruh

Ayat 6–8 berisi tujuh janji ilahi:

  • Aku akan mengeluarkan kamu

  • Aku akan melepaskan kamu

  • Aku akan menebus kamu

  • Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku

  • Aku akan menjadi Allahmu

  • Aku akan membawa kamu

  • Aku akan memberikan negeri itu

Perhatikan: bukan “engkau akan”, tetapi “Aku akan.”

Keselamatan tidak bergantung pada kekuatan Israel.
Pembebasan tidak bergantung pada kefasihan Musa.
Semua berpusat pada tindakan Allah.

Dan inilah inti Minggu Sengsara:
Keselamatan kita bukan hasil usaha manusia, tetapi karya Allah melalui salib Kristus.

Tuhan tidak hanya membebaskan Israel dari Mesir,
Ia membentuk mereka menjadi umat-Nya.

Tuhan tidak hanya menyelamatkan kita dari dosa,
Ia membentuk kita menjadi milik-Nya.

Kepedulian Tuhan selalu bersifat utuh:
Ia membebaskan dari, dan membebaskan untuk.

6. Ketika Umat Tidak Mendengar – Iman yang Patah

Ayat 9 sangat menyentuh:
“Mereka tidak mendengarkan Musa karena hati yang pendek dan perbudakan yang berat.”

Ada saat di mana penderitaan begitu menekan, sehingga telinga rohani kita tertutup.

Jemaat yang lelah bisa sulit percaya.
Orang yang terluka sulit berharap.
Hati yang patah sulit menerima janji.

Tetapi kabar baiknya:
Kepedulian Tuhan tidak berhenti karena iman kita melemah.

Yesus tetap berjalan ke Golgota, bahkan ketika murid-murid-Nya takut dan tercerai-berai.
Allah tetap bekerja, bahkan ketika kita tidak mengerti.

7. Ketika Musa Merasa Tidak Layak

Ayat 10–12 menunjukkan Musa kembali ragu. Ia merasa tidak mampu, tidak fasih, tidak layak.

Betapa manusiawi.
Betapa dekat dengan kita.

Banyak jemaat merasa:
“Aku tidak cukup baik untuk melayani.”
“Aku tidak cukup rohani.”
“Aku terlalu banyak kekurangan.”

Namun pengutusan Musa bukan karena kompetensinya, tetapi karena anugerah Tuhan.

Dalam Minggu Sengsara, kita melihat bahwa keselamatan tidak bergantung pada kelayakan manusia, tetapi pada kasih Allah.

8. Sintesis Perenungan untuk Jemaat

Dari teks ini kita belajar:

  1. Tuhan peduli sebelum kita menyadari kepedulian itu.

  2. Tuhan setia meskipun situasi tampak semakin buruk.

  3. Penderitaan bukan tanda ketidakhadiran Allah.

  4. Pengutusan adalah bagian dari karya keselamatan.

Musa diutus di tengah krisis.
Yesus datang di tengah dunia yang berdosa.
Dan gereja diutus di tengah dunia yang terluka.

Mungkin kita belum melihat pembebasan penuh.
Mungkin doa kita belum dijawab seperti yang kita harapkan.
Tetapi Tuhan yang berkata “Aku akan” masih sama hari ini.




Doa Perenungan

Tuhan,
di tengah kelelahan kami, ingatkan bahwa Engkau telah mendengar.
Di tengah keraguan kami, teguhkan bahwa Engkau adalah YHWH yang setia.
Di tengah penderitaan kami, ajar kami melihat salib sebagai tanda kepedulian-Mu yang terdalam.

Jika kami seperti Israel yang patah semangat, pulihkan kami.
Jika kami seperti Musa yang merasa tidak layak, kuatkan kami.

Sebab Engkau adalah Allah yang berkata:
“Aku akan.”

Amin.

Komentar

Postingan Populer