Renungan Mingguan Kristen

Renungan terbaru

Keluaran 6:1–13 dengan tema:
KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA
I. LATAR BELAKANG KITAB Kitab Keluaran

1. Kedudukan 

Kitab Keluaran adalah kitab kedua dalam Pentateukh (Taurat), yang secara tradisional dikaitkan dengan kepenulisan Musa. Secara teologis, kitab ini merupakan kelanjutan dari Kitab Kejadian, yang berakhir dengan bangsa Israel tinggal di Mesir. Keluaran menunjukkan peralihan dari keluarga patriarkal menjadi bangsa perjanjian.

2. Latar Historis
Peristiwa Keluaran terjadi dalam konteks perbudakan Israel di Mesir (kemungkinan abad ke-13 SM menurut banyak sarjana). Bangsa Israel mengalami penindasan sistematis, kerja paksa, dan dehumanisasi (Kel. 1–5).

Pasal 5 mencatat kegagalan pertama Musa di hadapan Firaun, atau situasi sebelum Keluaran 6 dalam Pasal 5 kita ketahui bahwa menunjukkan kegagalan awal Musa. Setelah Musa menyampaikan perintah Tuhan kepada Firaun, bangsa Israel justru semakin ditindas. Beban kerja diperberat, dan Musa merasa misinya gagal.
Bangsa Israel putus asa
Pemimpin mereka diragukan
Musa sendiri mengeluh kepada Tuhan (Kel. 5:22–23)

Sedangkan dalam pasal 6 atau 👉 Keluaran 6 adalah jawaban Tuhan terhadap krisis iman ini.
Ini penting untuk Minggu Sengsara:
Seperti Israel menderita sebelum pembebasan, demikian juga Yesus menderita sebelum keselamatan terjadi.
2. Tujuan Keluaran 6
Pasal ini bukan sekadar pengutusan ulang Musa, tetapi:
Penegasan identitas Tuhan
Penegasan janji keselamatan
Penegasan bahwa pembebasan berasal dari kasih dan kepedulian Tuhan

 Respons Firaun memperberat penderitaan Israel, sehingga umat dan Musa sendiri mengalami krisis iman. Dalam konteks krisis inilah pasal 6:1–13 menjadi titik balik teologis.

3. Latar Teologis
Tema sentral Keluaran adalah:
Allah yang mendengar jeritan umat-Nya
Allah yang mengingat perjanjian
Allah yang bertindak menyelamatkan
Nama ilahi menjadi pusat pewahyuan. Dalam 6:2–3, Tuhan menyatakan diri sebagai YHWH secara lebih penuh dan historis dibandingkan kepada para leluhur.

II. PENJELASAN TEKS DAN MAKNA TEOLOGIS
A. Ayat 1 – Intervensi Allah yang Berdaulat
“Sekarang engkau akan melihat apa yang akan Kulakukan kepada Firaun…”

Penjelasan:
Ayat ini merupakan jawaban atas keluhan Musa dalam 5:22–23. Kata “Sekarang” (עתה) menunjukkan momentum ilahi. Allah tidak pasif terhadap penderitaan umat-Nya.
Ungkapan “dengan tangan yang kuat” menegaskan kuasa ilahi atas kekuasaan politik Mesir.

Makna Teologis:
Kepedulian Tuhan bukan emosional semata, tetapi aktif dan efektif.
Pengutusan Musa bukan kegagalan; itu bagian dari rencana progresif Allah.
Allah bekerja dalam waktu-Nya (kairos ilahi).

B. Ayat 2–3 – Pewahyuan Nama YHWH
“Akulah TUHAN…”

Penjelasan:
Allah menyatakan diri sebagai YHWH kepada Musa. Walaupun nama itu sudah dikenal secara linguistik dalam Kejadian, namun kini dimengerti dalam konteks pengalaman penyelamatan historis.
Pernyataan bahwa para leluhur mengenal Allah sebagai “El Shaddai” menunjukkan perkembangan pewahyuan (progressive revelation).

Makna Teologis:
Kepedulian Tuhan berakar pada identitas-Nya.
Allah bukan sekadar Allah nenek moyang, tetapi Allah yang hadir dalam sejarah.
Pengutusan Musa didasarkan pada karakter Allah yang setia.

C. Ayat 4–5 – Allah Mengingat Perjanjian
“Aku telah mengadakan perjanjian-Ku…”
Penjelasan:
Rujukan pada perjanjian dengan Abraham (lih. Kejadian). Kata “mengingat” bukan berarti Allah lupa, melainkan tindakan setia terhadap komitmen perjanjian.
Frasa “Aku telah mendengar keluh kesah” menekankan empati ilahi.

Makna Teologis:
Kepedulian Tuhan bersifat covenantal (berdasarkan perjanjian).
Penderitaan umat tidak pernah diabaikan dalam ekonomi keselamatan.
Pengutusan Musa adalah realisasi janji lama.

D. Ayat 6–8 – Tujuh Janji “Aku akan”
Bagian ini merupakan inti teologis teks. Terdapat tujuh pernyataan ilahi:
Aku akan mengeluarkan kamu
Aku akan melepaskan kamu
Aku akan menebus kamu
Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku
Aku akan menjadi Allahmu
Aku akan membawa kamu
Aku akan memberikan negeri itu

Penjelasan:
Bahasa yang digunakan adalah bahasa penebusan (go’el – penebus keluarga). Ini bukan sekadar pembebasan politik, tetapi pembentukan relasi perjanjian.
Frasa “Aku akan menjadi Allahmu” merupakan formula perjanjian klasik dalam Alkitab.

Makna Teologis:
Kepedulian Tuhan bersifat menyeluruh: sosial, spiritual, dan eskatologis.
Allah tidak hanya membebaskan dari, tetapi membebaskan untuk (menjadi umat-Nya).
Pengutusan Musa adalah alat dalam karya penebusan ilahi.

E. Ayat 9 – Respons Umat yang Patah Semangat
“Tetapi mereka tidak mendengarkan Musa…”

Penjelasan:
Istilah “pendek hati” (×§ֹּצֶר רוּ×—ַ) menunjukkan kelelahan psikologis akibat penindasan berat.

Makna Teologis:
Kepedulian Tuhan tetap bekerja meski iman umat melemah.
Realitas penderitaan dapat mengaburkan harapan teologis.
Pengutusan Musa tidak bergantung pada respons emosional umat.

F. Ayat 10–12 – Krisis Kepercayaan Diri Musa
Musa kembali merasa tidak layak (“tidak petah lidah”).
Penjelasan:
Ungkapan “tidak bersunat bibir” menunjukkan ketidakmampuan retoris menurut Musa sendiri.

Makna Teologis:
Kepedulian Tuhan juga mencakup pemulihan panggilan hamba-Nya.
Allah tidak membatalkan panggilan karena kelemahan manusia.
Pengutusan Musa adalah karya anugerah, bukan kompetensi manusia.

IV. SINTESIS TEOLOGIS
1. Kepedulian Tuhan Bersumber pada Identitas-Nya
Allah bertindak karena Ia adalah YHWH — Allah yang setia.

2. Kepedulian Tuhan Berakar dalam Perjanjian
Keselamatan Israel bukan reaksi spontan, tetapi penggenapan janji Abrahamik.

3. Kepedulian Tuhan Bersifat Redemptif
Istilah penebusan menunjukkan pembebasan total (fisik dan spiritual).

4. Kepedulian Tuhan Tidak Dibatasi Respons Manusia
Baik umat maupun Musa mengalami keraguan, tetapi rencana Allah tetap berjalan.

V. RELEVANSI TEOLOGIS (IMPLIKASI HOMILETIS)

Dengan tema “KEPEDULIAN TUHAN DALAM PENGUTUSAN MUSA”, teks ini menegaskan bahwa:
Allah peduli sebelum manusia memahami kepedulian itu.
Allah setia pada janji-Nya meskipun situasi tampak memburuk.
Pengutusan seorang pemimpin adalah bagian dari karya keselamatan Allah.
Penderitaan bukan tanda ketidakhadiran Tuhan, melainkan konteks pewahyuan kuasa-Nya.

Komentar

Postingan Populer