Langsung ke konten utama

Renungan Mingguan Kristen

  Materi Pranikah Kristen “Komitmen Hidup Baru dan Kemandirian dalam Pernikahan Kristen” Pendahuluan Pernikahan Kristen bukan sekadar penyatuan dua orang yang saling mencintai, tetapi merupakan perjanjian kudus di hadapan Allah. Dalam pernikahan, laki-laki dan perempuan dipanggil memasuki hidup baru yang penuh tanggung jawab, kesetiaan, pengorbanan, dan kemandirian. Menurut iman Reformed/Calvinis, pernikahan adalah bagian dari kedaulatan Allah yang telah ditetapkan-Nya untuk memuliakan Tuhan, membangun keluarga yang takut akan Allah, dan menjadi kesaksian Injil di tengah dunia. I. Komitmen Hidup Baru dalam Pernikahan Kristen 1. Pernikahan adalah Perjanjian Kudus Dasar Alkitab “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” — 2:24 “Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.” — 19:6 Penjelasan Pernikahan bukan hubungan sementara, melainkan ikatan seumur ...

SETIA KEPADA TUHAN

Bagaimana hubungan jemaat, di tempat Anda menjadi anggota, dengan pendeta atau hamba Tuhan yang melayani di situ? Lalu bagaimana hubungan dengan hamba Tuhan lain, yang tidak khusus melayani di situ?

Jemaat Korintus sedang terpecah-belah. Mereka berkelompok-kelompok sesuai pemimpin rohani yang mereka agung-agungkan. 

Sebab itu, Paulus mengoreksi pemahaman mereka mengenai pemimpin rohani. Seorang pemimpin rohani adalah seorang hamba Kristus, yang dipercayakan rahasia Allah

Ayat 1 pada  ayat pertama ini kita diarahkan bagaimana seharusnya hamba-hamba Tuhan itu dipandang.  

yakni sebagai seorang yang kepada mereka dipercayakan rahasia Allah.

bukan sebagai pemimpin politik, maka itu tidak boleh dipandang tinggi secara berlebihan.

hamba-hamba Tuhan bukan tuan, bukan majikan akan tetapi mereka adalah hamba kristus.

 Hal itu disampaikan kendati ada orang lain menganggap mereka terlalu tinggi, dengan mengangkat Paulus sebagai  pemimpin golongan, dan mengaku-ngaku sebagai murid-muridnya. 

Dalam menilai hamba-hamba Tuhan, seperti juga hal-hal lain, hendaknya kita berhati-hati supaya tidak menilai secara berlebihan Seorang hamba tentu harus menjaga kepercayaan penuh yang diberikan oleh tuannya.

 Bagi Paulus, ini berarti setia pada Injil yang telah dia terima dan beritakan. 

Maka bagi Paulus, pendapat orang Korintus tentang bagaimana ia menjaga kepercayaan dari Allah bukan merupakan suatu hal yang penting. 

Evaluasi pribadi tentang kinerjanya sendiri juga bukan merupakan hal yang utama

perlu diketahui bahwa apa yang dilakukan oleh seorang gembala itu akan berdapak pada domba pemeriharaannya itu. 
maka itu gembala/ atau hamba-hamba dituntut dan dipercayai. 
di percayai ketika pelayanan-pelayanan itu meberitaukan rahasia ilahi itu dengan benar. 

Ayat 2 dituntut dari pelayanan –pelayanan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercaya , bahwa mereka setia. 
Pelayanan-pelayanan dalam kristus adalah menentukan apa yang sudah ditentukan 
Perhatikanlah, hamba-hamba Kristus harus selalu dan sepenuh hati berusaha membuktikan bahwa mereka dapat dipercaya.
Apa yang penting bagi Paulus adalah penilaian Allah terhadap pelayanannya hingga suatu waktu kelak dia menerima pujian dari Allah 
ayat 3.
Maka Paulus menghimbau orang Korintus untuk berhenti menghakimi hamba-hamba Tuhan karena sesungguhnya mereka menghakimi hanya berdasarkan apa yang mereka lihat. 
Sementara Tuhan mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati hamba-hamba-Nya. 
Lagi pula tidak sepatutnya mereka mengambil tempat Tuhan dalam menghakimi.
Ini menjadi pelajaran bagi kita dalam bersikap terhadap para hamba Tuhan. Ingatlah bahwa Tuan bagi para hamba Tuhan adalah Tuhan sendiri, bukan kita. 
Maka hanya Tuhan yang layak menerima pertanggungjawaban mereka.
 Karena itu jangan pernah memandang hamba Tuhan sebagai hamba kita, yang harus patuh pada kita dan memenuhi segala keinginan kita.
 Sebagai hamba Tuhan, mereka harus memprioritaskan dan melaksanakan apa yang Tuhan inginkan. Justru kita harus bersyukur atas hamba-hamba Tuhan yang setia mendorong umat untuk hidup melayani Tuhan agar kita menerima pujian juga pada hari kedatangan-Nya kelak.
ayat. 5 
“Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang Ini berarti menghakimi dengan sewenang-wenang, menghakimi sembarangan. 
Menghakimi di sini janganlah dipahami sebagai menghakimi seperti layaknya orang-orang yang memang berwenang untuk menghakimi, yang bertindak dalam batas kewenangan mereka.
 Bukan pula memberikan penghakiman sendiri atas kenyataan-kenyataan yang memang sudah diketahui banyak orang. 
Tetapi menghakimi di sini adalah menghakimi keadaan orang di masa depan, atau sumber-sumber dan asas-asas tersembunyi yang melandasi perbuatan mereka, atau kenyataan-kenyataan yang masih meragukan kebenarannya
Perhatikanlah, orang yang terdepan dan keras dalam mencela adalah sungguh pendosa yang lancang! Celaan-celaannya itu sungguh tidak pada tempatnya dan angkuh! Tetapi akan ada Dia yang menghakimi si pencela, dan orang-orang yang dia cela, tanpa prasangka, tanpa nafsu amarah, dan tanpa memihak.

Komentar

Postingan Populer