Langsung ke konten utama

Renungan Mingguan Kristen

KEJADIAN 13:1-18

  ALLAH PEDULI KITA SEPERTI ALLAH PEDULI ABRAM DAN LOT Kejadian 13:1-18 Latar Singkat Pasal Kejadian 13 mencatat pemulihan rohani Abram , perpisahan Abram dan Lot, s erta peneguhan kembali janji Allah kepada Abram. Pasal ini menegaskan bahwa iman sejati diwujudkan melalui kerendahan hati, ketaatan, dan kepercayaan pada janji Allah, bukan pada keuntungan sesaat. 1 . Kejadian 13:1–4 Abram kembali ke tempat mezbah Penjelasan Teks Abram kembali dari Mesir ke Negeb bersama Sarai dan segala miliknya. Ia kembali ke tempat mezbah yang dahulu didirikannya di antara Betel dan Ai. T indakan ini menunjukkan kembali kepada pusat persekutuan dengan Allah setelah kegagalan rohani di Mesir (Kej. 12:10–20). Mezbah melambangkan penyembahan, pertobatan, dan pemulihan relasi dengan Allah. Abram tidak memulai sesuatu yang baru, tetapi kembali kepada panggilan mula-mula. Ketika kita gagal atau menyimpang, jalan pemulihan bukan lari lebih jauh, melainkan kembali ke “mezbah”—doa, firman, dan p...

MARKUS 12:41-44

 “PERSEMBAHAN YANG DILIHAT ALLAH” 

Markus 12:41–44

Shalom, jemaat Tuhan yang dikasihi.

Pada pagi/siang/sore hari ini kita bersama-sama merenungkan sebuah kisah sederhana yang disampaikan Markus, tentang seorang tokoh yang sering luput dari perhatian: janda miskin yang memberi dua peser.

Ini bukan kisah tentang orang hebat, bukan tentang pengusaha besar, bukan tentang pemimpin rohani. Ini kisah tentang seorang janda—seseorang yang secara sosial dianggap kecil dan tak berarti. Namun justru dari dialah, Yesus mengajarkan pelajaran besar tentang iman, hati, dan persembahan hidup.

YESUS MELIHAT CARA KITA MEMBERI (Ay. 41–42) 

Firman Tuhan berkata bahwa Yesus duduk berhadapan dengan peti persembahan dan memperhatikan orang banyak memberi. Banyak orang kaya datang dengan persembahan yang besar. Namun di antara keramaian itu datanglah seorang janda miskin, membawa sesuatu yang tampaknya sangat kecil: dua peser—nilai paling rendah di mata manusia.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, Yesus melihat sesuatu yang tidak dilihat oleh orang lain. Manusia melihat jumlahnya, tetapi Yesus melihat hatinya. Kadang kita memberi supaya dianggap “wah”. Tapi Yesus tidak tertarik pada penampilan luar; Ia melihat motivasi, ketulusan, dan pengorbanan di balik persembahan.

 ALLAH MENGHARGAI IMAN, BUKAN NOMINAL 

(Ay. 43) Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata:

“Sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak.”

Secara logika, bagaimana mungkin dua peser lebih besar dari emas dan perak? Tetapi Yesus mengajarkan kepada kita bahwa nilai rohani tidak diukur dari angka, tetapi dari iman.

Persembahan janda itu bernilai karena disertai hati yang penuh percaya. Ia memberi bukan karena ia punya banyak, tetapi karena ia yakin Allah memelihara hidupnya.

Saudara-saudara, Dalam hidup ini sering kali kita merasa tidak punya banyak yang bisa kita berikan. Tetapi yang Tuhan lihat bukanlah seberapa besar yang kita punya, melainkan seberapa besar kepercayaan kita kepada-Nya.

PENGORBANAN KECIL DI MATA MANUSIA, BESAR DI MATA ALLAH

 (Ay. 44) Yesus menutup dengan berkata bahwa janda itu memberi “seluruh nafkahnya”. Ia memberi dari kekurangannya, bukan dari kelebihannya. Ia memberi sesuatu yang benar-benar berarti bagi hidupnya.

Inilah yang membuat persembahannya besar. Inilah yang membuatnya berharga.

Jemaat yang dikasihi Tuhan, Pengorbanan adalah bahasa kasih yang sejati. Kasih selalu menuntut tindakan. Kasih selalu menggerakkan pengorbanan.

Dalam memberikan waktu, tenaga, pelayanan, bahkan keuangan—Tuhan tidak mencari jumlah, tetapi kesediaan kita mengutamakan Dia.

APLIKASI BAGI KITA HARI INI

 Melalui kisah ini, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan:

  1. Mari memberi dengan hati yang tulus, bukan terpaksa. Memberi adalah bagian dari ibadah, bukan kewajiban kosong.

  2. Mari memberi sebagai tindakan iman. Saat kita memberi, kita mengatakan: “Tuhan, Engkaulah sumber hidupku. Aku percaya Engkau cukup bagiku.”

  3. Mari memberi dengan pengorbanan. Persembahan yang tidak membuat kita merasa apa-apa, sering kali tidak berarti apa-apa.

  4. Mari mempersembahkan bukan hanya uang, tetapi hidup kita. Tuhan rindu hati kita—kebenaran, pelayanan, waktu, dan kesediaan kita melayani-Nya.

PENUTUP

 Saudara-saudara yang terkasih, Janda miskin dalam Markus 12 mengajarkan kita bahwa apa yang besar di mata Allah bukanlah jumlah, melainkan kedalaman hati, ketulusan, iman, dan pengorbanan.

Kiranya kita menjadi jemaat yang memberi bukan karena dilihat manusia, tetapi karena kita mengasihi Allah. Menjadi jemaat yang percaya bahwa Tuhan memelihara hidup kita. Menjadi jemaat yang memberikan hidup kita sepenuhnya untuk kemuliaan-Nya.

Amin.

Komentar

Postingan Populer