Langsung ke konten utama

Renungan Mingguan Kristen

Renungan terbaru

  Tema: "Tetap Setia di Tengah Tekanan" Nas: Ester 3:1–15 Pembukaan Hidup ini bukan diukur dari seberapa nyaman kita menjalaninya, tetapi dari seberapa setia kita tetap berdiri ketika tekanan datang. Semua orang senang menjadi orang benar ketika keadaan mendukung. Namun, tidak semua orang mampu tetap benar ketika harus membayar harga. Dunia sering berkata, "Kalau ingin aman, ikut saja arus." Tetapi firman Tuhan berkata, "Tetaplah setia, sekalipun harus menghadapi tekanan." Tekanan dapat datang dari tempat kerja, keluarga, lingkungan, bahkan dari orang-orang yang memiliki kuasa. Tekanan sering memaksa seseorang memilih antara kenyamanan atau kebenaran. Ester pasal 3 mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Allah terkadang mengundang penolakan dari manusia, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan orang yang tetap setia kepada-Nya. I. Latar Kitab Ester Kitab Ester berlatar di Kerajaan Persia pada masa pemerintahan Raja (Xerxes I, sekitar 486–465 SM). Peristi...

Dasar Alkitab Dalam Perkawinan

 Dasar Alkitab

Teks Alkitab yang akan kita gali dalam bagian ini sebagai dasarmpentingnya manajemen dalam keluarga adalah Efesus 5:22-33 yang berkata: Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 

Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah la menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian la menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela. 

Demikian juga suami harus mengasihi istrinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi istrinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat, karena kita adalah anggota tubuh-Nya. 

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat. Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.

Bagian ini adalah isi surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus dengan latar belakang budaya Hellenis pada abad pertama. Ayat-ayat ini bukanlah ■ayat yang asing dalam kehidupan perkawinan, karena dalam banyak ibadah = pemberkatan perkawinan, ayat inilah yang biasanya dikumandangkan sebagai dasar perkawinan Kristen. 

Dalam rangka memaknai teks ini sebagai dasar manajemen keluarga, maka kita perlu melihat lebih mendalam bagian ini. Setidaknyaada 3 hal penting yang perlu kita garisbawahi antara lain: 

a. Kristus sebagai Pusat

Paulus memberikan nasihat bahwa dalam relasi antara suami  dan istri, ingatlah Kristus sebagai pusat relasi tersebut. Istri tunduk kepada suami seperti ketundukan kepada Kristus.

 Ini artinya bukan ketundukan karena keterpaksaan atau ketakutan tetapi tunduk karena rasa hormat dan cinta. Sebaliknya suami mengasihi istri seperti Kristus mengasihi jemaat. 

Kasih Kristus kepada jemaat adalah kasih yang mau berkorban, kasih yang

tidak terbatas dan kasih yang mengampuni ketika harus dimiliki suami sebagai respons terhadap ketundukan istri kepadanya kaistus menjadi pusat tidaklah semata terjadi setelah perkawinan, namun Kristus manis selalu menjadi pusat hidup pribadi suami dan istri, baik Kristus harus sell maupun setelah menikahara, Kristu Sebelukna bahwa dalam setiap perencanaan keluarga, Kristus harus terlibat. Sejak berpacaran, pasangan harus berani membuat perencanaan keluarga yang menjadikan Kristus sebagai pusat dari rencana tersebut.

b. "Bersatu dan Menjadi Satu"

Perkawinan adalah bersatunya suami dan istri, Keduanya sama-sama meninggalkan orang tua masing-masing dan membentuk keluarga sendiri dan kelak menjadi orang tua baru. Frasa "meninggalkan orang tua" dapat dimaknai bahwa baik suami maupun istri sama-sama belajar keluar dari c tradisi lama dalam keluarga masing-masing dan terbuka untuk beradaptasi dengan tradisi pasangan. 

Suami dan istri kemudian bersama-sama menemukan irisan dari kedua tradisi yang mungkin saja berbeda, atau tak terlalu berbeda, untuk membentuk tradisi baru setelah "menyatukan" dua tradisi mereka dalam rangka mencapai tujuan keluarga yang barumtersebut. Kesatuan ini termasuk juga "kesatuan finansial" antara suami dan istri Harta suami adalah harta istri, demikian juga sebaliknya, yang dikelola dengan baik untuk mencapai tujuan keluarga.

c. Relasi Timbal Balik

Teks ini telah memberikan pemahaman bahwa dalam relasi suami dan istri yang terjadi adalah relasi "saling" atau relasi timbal balik. Relasi ini adalah relasi yang menuntut keseimbangan dalam kewajiban suami maupun istri. Jika satu pihak terlalu dominan maka tujuan keluarga tidak akan tercapai. Suami dan istri harus saling melakukan kewajibannya dengan meletakkan Kristus sebagai pusat yang mendasarinya.

Relasi timbal balik ini juga dapat dimaknai sebagai relasi dalam berbagi peran yang adil dalam keluarga. Jika dalam konteks budaya kita yang secara umum bersifat patriaki ini melegalkan bahwa urusan domestik adalah kewajiban dan peran istri saja maka teks ini mengajak suami dan istri berbagi peran dengan prinsip "saling." Memasak dan mengganti popok tidak lagi semata-mata dipandang sesuatu yang harus dikerjakan oleh istri, tetapi bisa juga dikerjakan oleh suami sesuai dengan pembagian peran dalam keluarga.

Setelah menggali dan mendalami Efesus 5 ini, maka kemudian kita akan secara khusus lagi mendialogkan antara teks ini dan makna manajemen dalam keluarga. Karena itu, kita akan kembali mendalami 4 fungsi manajemen dalam keluarga yaitu perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan dalam konteks keluarga.

Komentar

Postingan Populer