Langsung ke konten utama

Renungan Mingguan Kristen

Renungan terbaru

  Penjelasan Teks Amsal 4:1–27 Tema: "Nasihat untuk Mencari Hikmat" Pendahuluan Ada pepatah, "Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama." Pepatah ini berbicara tentang warisan yang diturunkan dari satu generasi kepada generasi berikut. Capaian sebuah generasi akan menjadi kebanggaan generasi selanjutnya. Generasi penerus diharapkan menghasilkan capaian yang akan memuliakan generasi pendahulunya. Sayangnya generasi penerus belum tentu memperoleh capaian yang baik, sebaliknya bisa mengalami kemerosotan bahkan kejatuhan. Lalu apa warisan terbaik dari sebuah generasi kepada penerusnya? Karena pengalaman penulis amsal dan pengalaman ayahnya membuktikan bahwa hikmat telah memelihara dan menjagai hidup mereka, ia juga berharap hikmat itu akan memelihara dan menjagai hidup anak-anaknya. Penulis amsal menganjurkan anak-anaknya untuk memperoleh serta meninggikan hikmat dan pengertian yang akan menjunjung tinggi martabat ...

Arti Dirimu

 Arti Dirimu 

1 Raja-raja 16:8-34 

Apa arti orang lain bagi Anda? Setiap relasi menyingkapkan makna orang lain bagi diri kita. Demikian juga Israel, kerajaannya rapuh. Rajanya berganti-ganti dalam waktu singkat. Bahkan ada raja yang menjabat hanya seminggu. Hal itu disebabkan oleh pola relasi yang rapuh. Orang tidak bisa memercayai sesama, bahkan keluarganya sendiri. Orang lain adalah pendukung atau penghalang tercapainya keinginan diri.

Ela mendapat perlakuan seperti yang ayahnya perbuat terhadap raja sebelumnya. Ela dibunuh oleh pegawainya, yaitu Zimri (8-10). Ela bukanlah raja yang baik, sebab ia memperlakukan tentaranya hanya sebagai alat kekuasaan.

    Setelah menjadi raja, Zimri membunuh seluruh keluarga Baesa, seluruh laki-laki, juga kerabat dan teman-temannya (11). Mereka adalah penghalang dan ancaman baginya. Selanjutnya, Zimri dikudeta oleh Omri sebab pangkat Zimri lebih rendah ketimbang Omri (16). Pada saat itu, raja dipilih berdasarkan keturunan atau pemimpin tertinggi militer.

    Selanjutnya, rakyat menjadi terbelah. Sebagian mendukung Tibni, yang lain mendukung Omri. Pertempuran terjadi, Tibni dan pengikutnya berhasil ditumpas sehingga Omri menjadi raja. Omri membuat ketentuan yang mengharuskan umat menyembah patung yang dibuat Yerobeam dan melarang mereka pergi ke Yerusalem untuk beribadah di Bait Suci.

    Kelak, Ahab, anaknya menikah dengan Izebel yang menjadikan penyembahan Baal sebagai agama nasional. Agama ini memiliki kultus menjadikan anak kandung sebagai kurban persembahan untuk membujuk dewa mengabulkan permohonannya.

    Tanpa sadar, pola itu juga diterapkan dalam relasi dengan Allah. Allah dijadikan pihak yang mengabulkan semua keinginan. Jelas bahwa pola relasi yang memperalat pihak lain itu sangat kerdil dan rapuh. Relasi seperti itu tak akan bertahan lama. Sebab ketulusan, pengorbanan, niat baik, pengabdian, rasa hormat, sikap mengutamakan orang lain, komitmen, dan kesetiaan, mustahil tumbuh di dalamnya. Apa pun yang kita bangun tidak akan kokoh tanpa relasi yang kokoh pula. 

    Meski belum separah kondisi Israel, bangsa kita pun terus-menerus berada dalam situasi yang menegangkan. Dari penjajahan bangsa asing, kita pun 'dijajah' bangsa sendiri. Rezim yang satu berlalu diganti rezim yang lain, tetap saja tidak ada damai sejahtera dari Sabang sampai Merauke. Kenikmatan kemerdekaan hanya dinikmati segelintir orang, itupun didapat dengan menghalalkan cara. Marilah kita terus berdoa untuk memasuki Indonesia baru, yang diawali dari pembaruan hati dan berlanjut dengan pembaharuan di segala bidang. Bukan dengan cara dan usaha diri sendiri tetapi dengan kerendahan hati dan pertobatan kepada Yesus Kristus, Pemberi hidup baru yang kekal.

Komentar

Postingan Populer